"During my lifetime I have dedicated myself to this struggle of the African people. I have fought against white domination, and I have fought against black domination. I have cherished the ideal of a democratic and free society in which all persons live together in harmony and with equal opportunities. It is an ideal which I hope to live for and to achieve. But if needs be, it is an ideal for which I am prepared to die."......,NELSON MANDELA

Wednesday, January 27, 2016

Berakhir mitos 
bangun rumah "Green" mahal!
Bisa dicapai 2,1 juta per M2




Pertama pilihan dan pengalaman membangun di tahun 2012 (selesai) adalah dengan struktur baja telanjang. Design yang mencoba sedekat mungkin untuk memenuhi kriteria "green building" (berkaidah ramah lingkungan). Bukan untuk sekedar gaya-gayaan, melainkan tekad kami untuk benar-benar merubah gaya hidup yang menghormati bumi. 

Berhubung kawasan Jimbaran, Bali susah air maka harus punya reservoar air. Perhitungannya dalam setahun akan membeli air hanya 3 bulan, diwaktu musim kemarau. Ruamahnya panggung dan terbuka, sehingga sirkulasi angin mendorong panas keluar. Tidak menggunakan kayu yang menebang hutan. Melainkan menggunakan kayu kapal bekas dari daerah Tuban. Berhubung bisa dipastikan kapal-kapal disana menggunakan kayu jati yang ditanam.

Saat itu rekan-rekan di kontraktor memberikan penawaran disekitar angka 5,5 - 7 jt per meter persegi. Kalau bangunan kami mencapai 510 M2 diatas lahan 350 m2, lumayan juga dana yang harus disiapkan. Hampir mendekati 2,5 milyar. Dana sekian besar bukan saja akan menggerus persedian dana untuk membeli solar panel, tetapi juga tidak dimiliki saat itu. Akhirnya setelah dihitung ulang bisa dicapai asalkan dikerjakan sendiri. Kurang lebih berperan sebagai "main contractor". Cara ini bisa menyelesaikan bangunan berikut isinya untuk senilai 2,1 juta per meter persegi. Sengaja rumah ini tidak menggunakan bahan mewah. 

Dalam 8 bulan rumah bisa selesai untuk dihuni. Sekalipun seluruh pekerjaan interior seperti perlengkapan lemari dapur belum terpasang. Rumah tangga bisa hidup ke sehari-hariannya dengan sederhana dan nyaman. Setelah selesai dan 6 bulan kemudian solar panel dengan kapasitas  6000 watt terpasang. Konsep rumah akan selesai total kalau vertikal food garden selesai. Saat ini sedang menunggu nozel dripping irrigation. Sambil menunggu bisa tanam markisa, pandan, sereh, lombok, mangga, manggis, sirsak di sisa lahan.

Terlalu lama tehknik membangun berkutat pada material bangunan konvensional. Saat ini sudah banyak material yang "green" dan lebih murah di ongkos. Memang banyak sekali perkembangan di Green Building, dengan penyeimpan energy Hydrogen. Prinsipnya adalah bagaimana bisa beradapatasi bukan saja ke Green tetapi juga dengan dana yang kita miliki untuk membangun.


AWR
Jimbaran, January 2016







Thursday, December 3, 2015

HUTAN BAKAU INDONESIA, PESAN BALI UNTUK PARIS!

_AAA3369.Papua
PERANNYA STRATEGIS MENYIMPAN GAS KARBON

Indonesia memiliki garis pantai 99.000 km terpanjang nomor 2 di dunia setelah Kanada. Dalam urusan geografis dan konteks pemanasan global, terutama melawan naiknya tinggi air laut, harus diakui, hutan bakau memiliki peran “ecosystem”  yang luar biasa.

_AAA2204.Coastal people

Foto: Poriaman Sitanggang/zoomx.co

Luas hutan bakau Indonesia saat ini  2,9 juta hektar. Ini mewakili 23 % ekosistem bakau dunia. Selain memiliki peran sebagai habitat satwa liar (kepiting, udang, ikan, burung, monyet dsb),  bakau juga menjaga erosi dan abrasi. Hutan bakau juga menyimpan gas karbon 5 kali lipat lebih besar per hektar dibandingkan dengan hutan tropis. Sayangnya, data menyebutkan, dari sekian luas hutan bakau, hampir 58% dalam kondisi yang rusak (Tempo, 5 November 2012).
_AAA2781.Papua
Hutan bakau Indonesia menyimpan 3,14 miliar metrik ton karbon (PgC), papar Murdiyarso dan kawan-kawan dari penelitian LIPI 2015. Jumlah ini mencakup sepertiga stok karbon pesisir global (Pendleton et al., 2012). Kalau saat ini harga karbon di Eropa  8 Euro per metrik ton, bisa dibayangkan, uang segera diperoleh Indonesia.  Kami berharap delegasi Indonesia berani menyodorkan “tagihan” sebesar 25,120 milyar Euro atau Rp. 301.440.000.000.000. Kaya raya Indonesiaku!
_AAA3923.ok
Dunia harus tahu mengenai hutan bakau kita. Sejak 30 tahun terakhir Indonesia kehilangan 40 % hutan bakau. Laju kehilangan bakau 6 % setiap tahun. Sebagian besar disebabkan aktivitas tambak udang untuk memberi makan enak bagi dunia. Memang dari tambak udang, Indonesia  menghasilkan $ 1,5 milyar per tahun atau 40% dari penerimaan sektor perikanan. Tapi, hal ini tidak sebanding dengan peran ecosystem Bakau yang hilang.  Tidak bisa dihitung ke nilai dollar ataupun rupiah.Untitled-21
Para ahli bakau mengatakan pengelolaan hutan bakau oleh departmen yang berbeda, memiliki ketentuan peraturan yang berbeda pula  berdampak sulit bagi kelangsungan bakau. Kami berpendapat, diperlukan satu departemen khusus mengurus bakau Indonesia.
Alone yet strong
Akibat dari hilangnya hutan bakau seluas 0,05 juta hektar pertahun, kita melepaskan gas karbon ke udara sebesar 190 juta metric ton. Ah, andai kita sanggup mencegah penggundulan bakau Indonesia seperempat dari 26 % (saat ini Indonesia menargetkan 29%), bumi kita akan  sangat bergembira. “Program bakau ini bisa membantu dunia mencapai reduksi emisi pada  2020,”(Murdiyarso et al., 2015). Apa Paris tahu itu?
IMG_0995a
Kehidupan hutan bakau dapat dengan segera menjadi salah satu pertimbangan dunia. Dan Indonesia bisa bangga mengatakan, kami memiliki “Climate Management” setelah konferensi berakhir di Paris #COP21 nanti.
AWRBali, Nov. 27 2015

Thursday, November 26, 2015

BERIKUT ADALAH SERI TULISAN YANG MENGAWAL AKAN ADANYA LANGKAH PERUBAHAN MENDASAR PADA KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI, BAIK DI PRODUKTIFITAS, EKONOMI, POLITIK, TEKHNOLOGY, PANGAN, AIR BERSIH, ENERGY, PENDIDIKAN DAN BERMARTABAT KE ARAH ABAD KE 22. HAL INI AKAN MULAI SEJAK DITANDA TANGANI PADA AWAL BULAN DECEMBER MENDATANG, “PERJANJIAN MENANGGULANGI  PERUBAHAN IKLIM GLOBAL” DI PARIS.

MAJALAH ZOOM INGIN DARI DEKAT MENCURAHKAN PERHATIANNYA BAGAIMANA PEMERINTAH INDONESIA MEMPERJUANGKAN PENURUNAN PEMANASAN GLOBAL SAMBIL MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYATNYA.


Redaksi

MENGAPA ZOOMx  MEMBERI PERHATIAN
KE PERSIAPAN KONFERENSI
PERUBAHAN IKLIM BUMI
DECEMBER 2015

Tulisan pertama

Keputusan editorial akan mempublikasi tulisan tentang Perubahan Iklim Bumi, dasar utama karena hal ini akan menjadi perubahan Sejarah pada manusia.
Dimana seluruh aparatus system ekonomi terpaksa menghentikan pembangunan yang merusak bumi, atau tidak memperbaiki bumi lagi. Berhubung sejak tercatatnya GDP (Gross Domestic Product) seluruh Negara sejak 150 tahun, peningkatannya sejajar dengan kenaikan emissi gaz. Kemakmuran sebuah Negara juga merusak bumi.

Kemudian, dimana letak posisi  dan bentuk “tanah air” Indonesia sebagai kepulauan terbanyak di dunia. Memiliki garis pantai yang paling panjang. Para ilmuwan juga menjelaskan bahwa laut sangat berpengaruh sebagai “regulator” iklim dan emisi gaz di atmosphere. Belum lagi kawasan pesisir paling banyak menjadi mesin-mesin system perekonomian kita. Posisi geographi dan luasan kawasan laut kita sangat diperhitungkan untuk pemulihan suhu bumi. Berhubung Indonesia masuk peringkat ke 6 negara yang mengeluarkan gaz emisi karbon. Pada posisi 3 bulan sebelum konferensi dimulai 3 negara besar belum memastikan apakah akan ikut menandatangani perjanjian di COP21 tersebut; India, Brasil dan Indonesia.

Media juga terbiasa memberitakan apa yang telah terjadi daripada apa yang akan kita alami kata Alain Rusbridger, editor The Guardian yang membuat kampanye “Keep it in the ground”, meminta korporasi dan para trust fund melepaskan saham diperusahaan minyak, agar minyak bumi tetap didalam tanah. Sebelum Rusbridger meletakan jabatan sebagai editor yang dipegang selama 20 tahun, rupanya ini menjadi pilihan kesadaran untuk menggugah mereka yang belum terbangun dari hidup “kebiasaan” membuat suhu bumi makin meningkat.

Dari satu sisi, kita sebagai media gagal menggiring agenda panas bumi ini menjadikan pekerjaan rumah seluruh rakyat Indonesa, berserta seluruh aktor pemerintah, sosial, politik, swasta ataupun para LSM. Pemahaman persiapan penandatangan perjanjian di Paris belum pernah muncul di media secara rinci dan menyuguhkan agar menjadi debat publik. Mengapa transparansi agenda yang begitu penting tidak sampai ke masyarkat? Sekaligus pembelajaran dengan pertanyaan mengapa orang Indonesia masih asing dengan solusi-solusi perubahan iklim global mendatang?

Sisi lain juga, pihak kami dapat menyelami betapa kompleks perisapan konferensi ke konferensi hingga ke Paris mendatang. Rumit untuk mengurai dan sekaligus memberikan sedikit cahaya tentang apa saja dampak yang akan kita alami bila seluruh rakyat Indonesia secara nasional harus memberlakukan “Carbon Management” agar dapat mengurangi[AA1]  suhu panas bumi hingga 2 derajat untuk kurun waktu 2020-2025 mendatang?

Apa saja isi perjanjian yang akan ditanda tangani di Paris Desember 2015?

Beda dengan Protokol Kyoto yang mengeluarkan perjanjian setebal 350 halaman, sedang draft perjanjian yang telah dipegang oleh 196 negara hanya setebal 85 halaman. Perjanjian kali ini meminta pada masing-masing Negara, kontribusi apa yang bisa di bawa untuk mengurangi pemanasan global. Sekaligus membuat proposal proyeksi ekonomi baru bebrbasiskan penurunan suhu.

 “Universal Agreement” (perjanjian universal), secara hukum memang saling mengikat. Tetapi tidak memiliki sangsi. Secara berkala, target masing-masing Negara akan diukur secara ilmiah. Hasil ukur tersebut akan menentukan “rating” (peringkat) nilai karbon sebuah Negara. Hal ini akan berdampak pada pengukuran peringkat ekonomi yang seperti dilakukan oleh Standard & Poor. Bukan saja terhadap GDP sebuah Negara tetapi juga GDP dan karbon yang telah ditangani sebuah Negara.

Intinya bila Indonesia ikut menandatangani di konferensi COP21 di Paris bulan Desember mendatang, maka perubahan mendasar pada bagaimana energy, produktivitas industry, air, transportasi, pendidikan dan banyak hal. Hal tersebut hanya bisa dicapai dengan dana yang akan disediakn untuk perubahan infrastruktur yang senilia $ 100 milyar per tahun dan adanya tekhnologi. Seperti konservasi energy (baterey) misalnya.


AWR
03 September 2015

 [AA1]Membatasi kenaikan 

Saturday, November 14, 2015




DUKACITA PARIS


SOLIDARITE AVEC VOUS, FRANCE!


Bukan nilai kehidupan yang menjadi target. Bukan Langkah politik sebuah negara yang dituju. Tetapi Sebuah resolusi kelanjutan manusia beroganisasi berkelanjutan dengan perjalanan sejarah hingga hari ini! Resolusi kehidupan yang yang kita jalani tidak akan bisa ditumpas oleh siapapun!. Tidak juga sebuah ideologi, agama sekalipun yang akan coba menghapuskan kehidupan yang dibangun bersama, dengan cita-cita dan persiapan generasi mendatang. Dirubah, diperbaiki, tetapi bukan dengan penumpasan!


Bali, November 2015

Thursday, October 22, 2015

ROCKING POSITION 

PREPARATION MEETING IN BONN FOR PARIS CONFERRENCE


20 October 2015

156 Countries signing some majors text which has some crucial issues. Thanks to the civil society group who wave the flag on producing more "balance text" for Paris negotiation. 
Specially the countries represented by G 77 and China (134 countries), where Indonesia is represented. Listening from various negotiators members which presided by South African some themes on negotiation such Lost and Damage cost is still not accepted by the rich countries.

Listening their Press Conference in Bonn meeting starting from 19th October 2015 the attitude and strategies layout by the developed countries basically don't want to pay Lost and Damage. http://unfccc6.meta-fusion.com/bonn_oct_2015/events

The other hand if the country like Indonesia has submitted unrealistic INDC on last September 2015:http://climateactiontracker.org/news/229/Indonesias-climate-plans-lack-transparency-and-credibility.html

The Jakarta Post called on their article .."half hearted promised"!!http://m.thejakartapost.com/news/2015/10/09/indonesia-s-climate-plan-signals-a-half-hearted-promise.html
Perhaps most urgent to notify is lacking to bring the climate change issues on national debate.

Recently government is about to go head by making electrical power by coal based.
Even with President Jokowi visited in Saudi Arabia recently having joint venture deal on fossil fuel.

Is rocking position in very crucial moment. National media bombarded the attention on forest fire in tow big island, Sumatra and Kalimantan and disrupt neighbour countries until souther Thailand.

ASWR

Friday, October 9, 2015



CLIMATE CHANGE: FOOD SELF-SUFFICIENT 

APPROACH TO ENERGISING THE INDONESIAN COMBATING RASING CO2


This Food Forest Garden project in Jakarta will be sensible enough to bring hope on combating the climate change. Food is long historical scariness for Indonesian population. Not very much for younger generation but it is still present for the vas majority of rural population. After the falling of Soekarno the country set up on agriculture strategy on self-sufficient rice production. But after the falling of Soeharto regime Indonesia is back on importing rice. Rice still to be consider of politic barometer stability. But indonesian agriculture have more than rice production.

FOREST RIGHT IN THE MIDLLE OF JAKARTA



Not just the architecture narration what is important but the message the whole on Transition Economy model what is matter.




WISH WE ALL TO BE THERE





So many home works has to be done. Energising family, friends, communities and government officials to look at that we are entering on transition period. Cutting reducing again the fuel price in the country it does not mean the efforts of combating Co2 it will be cheaper.

Friday, October 11, 2013


MENCARI PENULIS DARI PULAU KE PULAU


Penulis bukan kemampuan seperti jabatan yang pernah kita kenal seperti julukan "juru tulis". Bukan keahlian itu yang dicari. Melainkan penggugah dan penggugat pola pikir yang selama ini menjadi rujukan. Selain pilihan tema tulisan juga penyajian yang kian menantang agar semiotiknya lebih beragam dan lebih mewakili realitas bahkan melebihi realitas.


Pendek kata, saat ini sedang mempersiapkan majalah cetak yang bertemakan "manusia pulau" dan lingkungannya sedang mencari tulisan dari penulis-penulis diseluruh pelosok.

Baik berupa reportase, fiksi ataupun jurnalistik. Seluruh tulisan bermuat sekitar 750 kata. Bisa dialamatkan ke team redaksi daripulaukepulau@gmail.com.

Kami merindukan cerita dari sebrang.

Sampai jumpa

Monday, October 7, 2013

DIGITAL ERA & ELITIS, iPHONE DI KEHIDUPAN KITA

iPhone 5 S dan iPhone 5 C telah hadir di pasar (America). Apakah yang perlu kita simak pada fenomenology kegandrungan era digital ini merambah dalam kehidupan kita?Fisiknya tidak jauh dari pada iPhone 5 sebelumnya. Versi murah iPhone 5 C dikiritisi dengan harga US $ 400 an tidak cukup untuk di kategorikan "murah". Bodynya dari plastik keluar dengan aneka ragam. Sedang versi mewah iPhone 5 S dengan punggung bodynya kilau warna emas. Sebenarnya yang lebih hadir dri segi visual adalah kehadiran iOS 7, terutama pada mayoritas typology (Font) dengan menggunakan type Helvetica light. Berisikan prosesor dual-core, 64-bit A7 dua kali lebih cepat dari pada otak sebelumnya. Camera menghasilkan foto yang lebih 3 dimensi hasilnya. Design pada sisi fisik dan aplikasi memiliki kesatuan konsistensi yang sangat cantik. Selain sisi technology yang menjadi "leader" di dunia, Apple telah bisa menjual 9 juta iPhone (5 S dan 5 C) selama 3 hari. Sebelum penjualan iPhone 5S & 5C saham Apple disekitar US$ 460 untuk per saham, hari ini telah mencapai US $ 490.64 (http://appleinsider.com/). Observasi yang menarik adalah mesin yang bisa membuat Apple dengan strategy technology, masuk ke dalam dunia sehari hari kita. Hal ini tidak mungkin luput dari fondasi yang telah diletakan oleh Steve Job, untuk berada pada perangkat High Technolgoy yang merubah cara kita berkomunikasi dan cara kita hidup pada dunia sehari hari. Tantangannya bukan lagi pada design saja, tetapi kegunaan yang bisa memudahkan kehidupan kita. Seperti diagnose kesehatan jarak jauh dengan dokter kita. Kalau mengontrol pintu dan jendela-jendela kita dari jauh palikasi tersebut sudah lama ada di pasar. Seperti telah dibuktikan oleh Steve Job, tata niaga music berubah dengan adanya iTunes. Kemudian berakhirnya era PC menjadi iPad (tablet). Dunia usaha yang bisa memenfaatkan dengan adanya iPad adalah dunia media. Saat ini masih ber negosiasi untuk memperbanyak TV chanel agar bisa menjual abonement dengan menonton TV program yang kita suka, sekalipun sudah 1 bulan lalu ditayangkan.

Berapa besar perubahan kehidupan yang "memajukan" peradaban benar-benar berkat smartphone seperti iPhone? Seudah menjadi sebuah ritual marketing beberapa hari, minggu fenomena kehadiran produk Apple memenuhi "head lines" di media digital ataupun cetak di dunia. Secara angka iPhone menguasai 40% dari pasar "smartphone". Selain itu dikuasai pasar Android.


Ada beberapa strategy iPhone yang ditunggu oleh para investor di masa mendatang: pertama adalah system pembayaran yang bisa menggantikan kartu kredit, kedua adalah berintegrasi dengan TV online. Saat ini porsi entertainment melalui perangkat Apple sudah dipegang adalah ITunes dengan penjualan music. Satu langkah lagi mereka akan menwarkan abonemen program TV.


Sementara kita menunggu kecanggihan smartphone, kita sudah sangat ketergantungan dengan perangkat "smartphone" dan merubah kehidupan, paling tidak sudah merubah struktur pengambilan keputusan kita sehari hari.




Monday, April 1, 2013

MEMBANGUN RUMAH DENGAN PRINSIP HIJAU TIDAKLAH RUMIT.....TETAPI MEMBANGUN MENTALITAS ECOSOPHIE.....Bag I

Sebuah bangunan yang mengikuti prinsip ramah lingkungan memang salah satu langkah awal untuk setiap penghuni planet bisa memperbaiki keadaan CO2. Tidaklah terlalu rumit untuk dicapai. Tantangan yang berat adalah untuk sebuah kawasan bisa memberikan kehidupan yang nyaman untuk masa depan yang lestari. Baik dikawasan rural ataupun urban. 

Kita belum memperoleh gambaran yang jelas bagaimana pedesaan kita mulai kosong dan mengisi kawasan urban baru. Mesin produktivitas pertanian mulai ditinggalkan. Konsep kapitalis tahun 60 an dimana uang mengalir disatu tempat menarik perhatian, sebuah kawasan pedesaan menjadi "dessertic" keksosongan. Tentunya hal tersebut membuat dampak ekonomi jangka pendek yang mengiurkan adanya pertumbuhan, tetapi akan mahal sekali melihat dampak jangka panjangnya. Bukan saja membuat emisi gaz CO2 bertambah, bahan bakan bersubsidi membebani APBN tiba-tiba infrastruktur tidak memadahi ...dan seterusnya.

Pola perekonomian kota yang dijanjikan oleh pemodal-pemodal lebih cepat mencetak kemiskinan dari pada kemakmuran. Apalagi ditambah dengan korupsi yang menjadi pendemik. Kemiskinan yang dianalisa oleh para spesialist bukan saja akibat kapital tetapi bahkan system yang diciptakan agar para buruh tetap terjebak untuk tetap tunduk dalam tekanan, karena bila tidak menerima pekerjaan yang penuh tekanan maka kemiskinanlah yang menimpa.

Pembentukan kehidupan kolektif yang memberdayakan atau membebaskan diri dari sistem produksi kapital adalah salah satu pilihan juga agar tidak tertekan dan bahaya jatuh untuk miskin.

Kolektifitas dengan memiliki tujuan menangani produksi pangan kebutuhan sehari hari bisa menjadi langkah pertama yang memungkinkan bebas dari sistem produktifitas yang diciptakan oleh system pemodal.

Gagasan yang awalnya berupa imajinair bisa diartikan sebagai tapa "pembebasan" adalah, asalkan langkah tersebut mewujudkan realitas; menyelematkan air hujan untuk dimanfaatkan, membentuk koletifitas pengumpulan bibit lokal sebagai bank benih, dll. Perubahan sikap dengan adanya "kebudayaan" keberpihakaan terhadap bumi sangat luas tetapi membutuhkan hasil yang bisa jadi rujukan oleh kelompok atau koperasi. Membangun inisitif yang bertumpu pada produksi pangan adalah pengungkapan kebudayaan terhadap bumi yang berskala nasional akan bisa menggalang kekuatan perekonomian baru.

Friday, March 29, 2013

BERDEMOKRASI DI INDONESIA

Kekerasan yang melanda terakhir di negri ini memerlukan strategy "Rekonsialiasi National" jangka panjang.
Sejarah harus menjadi tumpuhan berpijak, mengesampingkan seluruh kepentingan politik yang berlaku. Teori "kesatuan" dalam sebuah bangsa sedang dipertanyakan.
Cepat merebut danmenyelamatkan generasi muda untuk tidak beraliansi dengan titik-titik sejarah bangsa yang bobrok.

Bukan saatnya menanti seorang pemimpin sebelum agenda penting ini bisa dipentaskan kedepan permukaan. Pesta demokrasi di Indonesia baru seputar pemilihan pemimpin. Inipun masi membutuhkan kejujuran, nilai konsultatif dengan rakyat yang berpihak, dll.

Para calon presiden untuk pemilihan tahun 2014 telah beredar di media masa, ada dua catatan penting; yang pertama menunujukan pola berkompetisi untuk berkuasa yang sangat dominan, kedua generasi calon pemimpin yang tidak muda. Dalam metodologi mendekati dengan rakyat, kecuali Jokowi, dimana diapun membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya mampu memimpin bangsa dan negara.

Rakyat memiliki kekuatan yang bulat dalam alur demokrasi ini, tetapi para pelaksanannya membutuhkan orang orang yang tangguh dan cemerlang.

Sunday, July 8, 2012

INDONESIA LANGKAH LANGKAH PROGRAM HIJAU

 Saat ini belum terdengar langkah-langkah hijau yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai upayanya menangani kehancuran bumi. Morotarium kebun kelapa sawit dan peralihan hutan yang ada deposit tambangnya juga masih dalam perkancahan dilapangan.

BISAKAH PROGRAM HIJAU SEBAGAI LOKOMOTIF EKONOMI NASIONAL?

DIMANA PROGRAM HIJAU INDONESIA? Multi displine yang mengandung makna perbaikan terhadap bumi atau perubahan-perubahan gaya hidup yang berpihak kepada bumi hari ini sangat banyak. Ada beberapa cara memandang ilmiah (epistimology) dengan pertanyaan: bisakah perubahan perbaikan bumi juga memperbaiki kehidupan kita

Wednesday, June 13, 2012

DARI PULAU KE PULAU


DARI PULAU KE PULAU

BUDAYA
Kaya Raya Negri ini, Sumber Inspirasi Yang Tiada Habisnya

Konsep baru untuk berbelanja. Penyajian yang berinspirasi dari keaneka ragaman budaya.  
Baik dari geografis dan etnisitas.

Menciptakan iconic space yang bisa menyimbolkan hadirnya produk-produk indonesia atau yang telah lahir di Indonesia.





Wednesday, November 9, 2011

THE ORGANIC FORM OF MALL IN KUTA BALI



We have been commissioned to create a "design" venue where all the social class can relate to the object design as their identity.
Let's hope that people will enjoy and financially will have a good journey.

Thursday, March 17, 2011

KOMUNITAS INTERNATIONAL BERSATU MENYINGKARKAN KHADAFI

Akhirnya koalisi international membuktikan bahwa rakyat yang tertindas memperoleh dukungan untuk membebaskan diri. Dewan Keamanan PBB akhirnya mengeluarkan keputusan untuk memperbolehkan Koalisi International mengambil segala sesuatu langkah untuk memproteksi penduduk sipil di Libya. Termasuk "Fly Zone", melarang Libya untuk menggunakan spatial untuk terbang, yang selama ini membunuh rakyat Libya.

Mengapa China, Rusia dan German melakukan abstensi pada sidang Dewan Keamanan PBB; secara geopolitik Rusia ingin citra dan tetap memiliki kemampuan untuk membuat keseimbangan atas dunia "Blok Barat". Sedang China perhitungan yang mendasar adalah kepentingan investasi atas sumber minyak Libya tetap menjadi acuan. Alasan yang tidak akan bisa masuk dalam perhitungan politik China adalah semua gerakan rakayat yang menentang "penguasa" tidak akan masuk dalam politik luar negri mereka. Pendek kata segala sesuatu yang menyuarakan "demokrasi" dengan cara (kekuatan) internationalism tidak mungkin didukung oleh China. Berhubung proses demokrasi China sangat berbeda sekali dengan yang dipromosikan dengan blok barat. Rusia sudah menyerukan untuk segera diterapkan ganjatan senjata.

Pemerintah German lebih mengutamakan analisa-analisa jangka panjang yang tidak cukup jelas buat German untuk mendukung voting Dewan Keamanan, walaupun German tidak memiliki kursi pada Dewan Keamanan. Tetapi, keraguan German lebih pada data realitas lapangan, siapa sebenarnya oposisi di Libya tersebut. Apakah "No Fly Zone" berarti bisa memberhentikan penyerangan warga sipil dari tentara Khadafi.

Sedikit sekali dunia International memahmi apa yang terjadi di Libya. Bagaimana Kolonel Khadafi memperoleh kekuasaan dan gayanya dia memerintah. Sedikit sekali berita tentang kekerasan yang dialami oelh warga sipil.

"No fly Zone" menjadi penyerangan kekuatan militaire Libya adalah kelanjutan atas interpretasi modern tentang 'Kedaulatan". Dari sejak penyerangan atas Irak, negara-negara barat memiliki agenda khusus atas definisi "Kedaulatan" sebuah negara.

Lembaran sejarah moderen akan terus memperoleh perhatian, berhubung definisi tentang Hak Asazi Manusia menjadi pemicu utama. Dikonteks geopolitic reservoir minyak di jangka panjang juga menjadi pemicu.

Monday, February 21, 2011

AUTORITAS NEGARA DIAMBANG UJI

Bertubi-tubi institusi penegak hukum memperoleh sederet masalah yang sangat tidak mudah untuk menunjukan kemampuannya menegakan keadilan sesuai dalam amanah konstitusi. Baik dari agenda pembrantasan korupsi, mengeluarkan kode etik bagi legislator (pembuat undang-undang) supaya tidak kerumah mesum, sampai menempatkan perkara Ahmadiyah hingga yang terakhir menggusur kekuatan Nurdin sebagai ketua PSSI juga tidak menemui jalan yang jitu. Belum pula perkara markus-markus dan karakter korupsi di negara ini meramaikan media yang tidak kunjung reda dan berakhir tanpa selalu berkekuatan hukum.

Para pengamat mengatakan secara politik segala sesuatu akan bermuara kepada autoritas pemerintah dan tentunya ke presiden. Kewibawaan politik presiden yang dipilih secara demokratis dan memenangkan suara lebih dari 60% tetapi tidak memiliki majoritas di parlem memang mendesak SBY untuk berulang kali mengadakan kalkulasi politik. Yang mana tidak selalu mencerminkan komitment politiknya pada waktu kampanye. Setelah hak angket dilewati, ada reshaful yang meletihkan untuk publik mengkuti dimana manfaatnya dan tidak mencerminkan sebuah stabilitas.

Ujian berdemokrasi lagi, dan pelaksanaan konstitusi adalah kasus Ahmadiyah. Baik dari modus operandi kejadian hingga terakhir beberapa gubernur dengan tekanan akhirnya tidak mengizinkan Ahmadiyah di daerahnya. Sedang menteri Djoko Suyanto telah mengatakan kalau Negara tidak mengatur tentang keyakinan.

Tulisan ini bukan mengulang apa yang telah ditumpahkan dalam media tentang keyakinan tidak bisa diatur oleh pemerintah, tetapi tetap saja pemerintah daerah yang melakukannya. Kali ini saya ingin bangkit dari kelelahan tentang inertia ide dan perjuangan atas "ideologi-ideologi" Pancasila. Bangkit dari orasi dan jargon politik diwarung kedai dengan gaya borjuasi para penguasa , baik dari DPR dan penegak hukum lainnya.

Tanpa pernah mendengar analisa dengan pendekatan struktural. Tidak pula melihat dengan perspecktif historis, kalau kaum minoritas selalu diperlakukan deskriminatif, padahal dilindungi oleh konstitusi. Sejarah perebutan kekuasaan yang menggunakan kedok agama pelan-pelan memperburuk NKRI dan hidup dalam kemajemukan. Sejarah para Wahabi di abad ke 6 perlu kita bedah dan dipertanyakan apakah gejala-gejala penumpasan kaum minoritas mulai merambah ke tanah air kita.

Sejarah penghasutan atau manipulasi melalui teror itu memang tumbuh sejak perang para pangeran di era Majapahit, Mataram dan melawan kolonial. Autoritas yang melemah di desak dan diuji pada setiap integritas ideologi berbangsa dan bernegara.
Mengapa rakyat (populis) belum bergerak atau melakukan perlawanan dengan gerakan budaya. Bukankah mereka semua sedang kelelahan melihat gejala pelemahan pemerintah yang mereka pilih. Disini peluang untuk agenda-agenda besar akan digelindingkan untuk melihat berapa kokohnya pemerintah ini. Apakah diam itu passive tak berdaya? Apakah menguji juga paham tentang demokrasi yang kita miliki?

Saturday, January 22, 2011

MUAK DENGAN BERITA

Dari sejak tulisan terakhir tanggal 29 Desember 2010, saya sengaja menahan diri untuk tidak ikut membanjiri berita-berita yang sedang melilit di masyarakat Indonesia. Masing-masing kubu sedang mengeluarkan jurus maboknya untuk dapat memperoleh manfaat politik dari semua yang sedang digelindingkan melalui media.

Hingga yang terakhir, malah para agamawanpun juga mengangkat bicara tentang republik dan pemerintahan. Seakan-akan angkat suara ditengah-tengah aneka ragam perkara yang digelar melalui media ini telah menjadi wabah. Masyarakat Indonesia sedang di seret oleh kekuatan media, kalau seluruh perkara bisa diselesaikan melalui media. Lihat isu daerah Istimewa Jogyakarta, atau isu mafia-mafia atau perkara-perkara yang nempel di kehidupan kita. Tiada hentinya melakukan "demontrasi" kekuatan opini. Proses demokrasi yang keluar dari garis "bijaksana" dan kedewasaan (bermartabat) berepublik. Contoh yang extrim atas mobilisasi opini berdarah adalah tetnagga kita Tahiland. Bukan tanpa korban, tetapi juga pemulihan ekonomi yang panjang.

Sama sekali berita-berita tersebut tidak memberikan inspirasi kepada generasi muda, nampak sekali permainan politik atau kekuasaan yang begitu asing untuk rakyat jelata.Tekanan kehdupan tidak juga mengarah meringkan, yang jelas berita-berita itu semua tidak membawa perubahan yang mendasar.

Rakyat selalu akan menempatkan kata akhirnya. Rakyat selalu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berdaulat, untuk menentang kekuasaan siapa saja yang dipndang telah melampaui batas! Hanya rakyat sendiri yang bisa mewujudkan. Rakyat selalu menyusun kekuatan dengan siluman. Gerakan dibawah tanah yang tidak terdeteksi oleh media-media besar.
Rakyat akan mengokreksi seluruh perebutan kekuasaan.

Proses keterbukaan yang telah ada akan lebih memudahkan rakyat untuk berkonsultasi dengan yang dipandang mulia dan bijaksana. Dalam konteks ini sudah jelas mereka tidak akan berkilblat kepada pemerintah atau penguasa.
Kita tunggu munculnya barisan yang akan mengawali pembahruan diatas bumi Indonesia ini.


Wednesday, December 29, 2010

RAKYAT BERSUARA.. BANGSA PENUH BERHARAP DI 2011

Betapa letih kondisi rakyat Indonesia yang telah diombang ambingkan dengan gelombang perubahan kekuasaan sejak 1998. Demikian lahirlah "reformasi" yang menggeser era "Orde Baru". Disamping rentetan bencana alam yang sejak 2004 selalu merobek keheningan rakyat. Dimana kemapanan ekonomi kian tak tercapai, kian menyulitkan. Lebih tepatnya yang kaya makin setambah kaya. Sedang yang miskin makin tidak punya masa depan. Belum lagi media yang bertubi-tubi menghalau kebobrokan martabat dan integritas para pelaku politik dan penguasa. Orientasi bangsa sekali lagi kian membingungkan.

Dalam keadaan terjepitpun rakyat tidak minta perlindungan kepada siapapun, karena rakyat akan bisa mengakhiri segala ketidak setujuan tersebut dengan cara "populis". Seperti rakyat Perancis yang menyeret raja Louis XIV dan isterinya Marie Antoinette ke meja Guillotine dan kepala mereka dipenggal dihadapan rakyat, mengkahiri kekuasaan kerajaan yang tanpa batas.

Seperti kekuasaan Soeharto tumbang ditangan para mahasiswa yang mendesak reformasi ditegakan. Mereka yang berkuasa agar memiliki kemampuan bercermin pada sejarah. Rakyat tidak akan merengek-rengek karena kekuatan tenaga, hati nurani mereka sudah terkuras habis dengan perbaikan hidup yang tidak kunjung tiba.

Titik "kesabaran" biasanya tidak selalu dipacu untuk menggulingkan kekuasaan, atau sebaliknya dengan mudahnya ditunggangi oleh kekuasaan politik tertentu. Gerakan selalu memiliki nilai yang luhur untuk bangsa: menyusun kembali martabat dan ukuran "kemanusiaan" yang selama ini digilas oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Penentang populis menjadi homogen dan konsertasi (terpusatkan) meluas dan rata secara nasional.

Pada sisi lain, bila rakyat saat ini tidak bersuara bukan berarti rakyat tidak bekerja atau tidak mengamati perubahan pada titik-titik kekuasaan. Pengumpulan gerakan populis, perlu kekuatan atau saat merevitalisasi diri memang membutuhkan gugus generasi yang baru, lebih muda, lebih gigih, lebih kritis. Banyak orang mencerminkan kalau suporter Timnas lebih bermartabat daripada para wakil rakyat untuk hal-hal kepatuhan dan santun. Poupulis memang tidak banyak menuntut, sangat sederhana membuat hati mereka bahagia. Dalam keadaan kesulitanpun mereka tetap coba untuk tidak membebani yang lain.

Disinilah keseimbangan pada titik "luapan berontak", menjadi tanda tanya untuk orang-orang ahli analisa politik, bagaimana menggerakan rakyat untuk kepentingan agenda-agenda kekuatan politik. Tidak hanya mengeksploitasi luapan masa. Dilain sisi juga harus bisa menghapus, meredam kekecewaan atau kemiskinan yang secara struktural. Keseimbangan pada ambang pemberontakan tersebut selalu bekerja dan bergerak secara anonim. Para pahlawan yang gugur di Trisakti dan Semanggi mereka tidak menjual dirinya sebagai pahlawan. Bahkan keberadaan nama merekapun masih simpang siur dalam konteks sejarah moderen Indonesia.

Rakyat bersuara tanpa kata atau tanpa slogan politik. Inilah cermin yang perlu dicermati oleh para politikus. Agar suara mereka tidak disandra menjadi keuntungan mereka belaka. Sekalipun proses dan pendekatannya diberi lebel demokrasi. Bisakah bangsa ini juga berharap pada rakyatnya agar menentukan perjalanan sejarah yang tidak berdarah dan penuh kebijakan.



Monday, December 27, 2010

TIMNAS...TARIK NAFAS, KITA KALAH PADA BABAK 1

Secara objektif permainan Timnas tidak ada perpaduan diantara para pemain. Pertahanan yang masih tercerai berai. Lawan Timnas lebih mengadakan presing dan menyerang. Konklusi semetara kita kalah 3-0.

Coba kita lihat dimana yang harus kita tinjau dan pelajaran dari "euphoria". Hampir semua pemain politik, baik dari kubu SBY, Golkar dan bahkan institusi PSSI coba memetik keuntungan dari "euphoria" Timnas ke babak final. Selain dari pelaku politik dan para pejabat ada juga element yang ikut berperan membakar "euphoria" rakyat, yaitu media. Khususnya media elektronik. Bahkan ada disatu chanel tv mentayangkan Timnas hampir 15 kali dalam 1 hari tanpa adanya berita baru.

Bebearpa nara sumber di media elektronik mengungkapkan kalau "euphoria" Timnas memiliki potensi mempersatukan bangsa yang sempat beberapa tahun ini bermasalah. Asalkan bisa dikanalisasi ke arah yang positif. Semua para aktor bangsa sebaiknya segera memberikan arahan terhadap kesempatan pemersatu bangsa. Demikian juga kalau Timnas gagal memperoleh gelar juara.

Ada beberapa lapisan makna atas munculnya Timnas dimakna berbangsa (nasionalis), prestasi atas sport itu sendiri yang didambakan oleh segenap lapisan rkayat Indonesia. Dimana ada makna sosio kultural yang bisa berarti bagi bangsa: unsur kedisplinan, unsur pendidikan, mendukung lambang-lambang perjuangan identitas nasional dan berbangsa. Hanya saja "euphoria" ini akan pudar dan susah sekali dibangun bila kesejahteraan rakyat banyak juga tidak diwujudkan dikehdiupan sehari-hari. Berhubung sepak bola dengan kemenangan sekalipun akan memiliki batasan untuk bisa memajuka kemampuan ekonomi seluruh rakyat indonesia.

Kekalahan pada babak 1 lebih pantas untuk kita meredam keingnan yang bermuluk muluk, dan lebih menginjakan kaki diatas bumi pertiwi dengan segala kelemahan yang pantas diperbaiki.

Sampai tanggal 29 Desember mendatang, dimana kita berhadapan dengan cermin bangsa yang dewasa dan bertanggung jawab atas langkah sejarah yang ingin kita tempuh.




 

©  THE ISLAND MAN