Bertubi-tubi institusi penegak hukum memperoleh sederet masalah yang sangat tidak mudah untuk menunjukan kemampuannya menegakan keadilan sesuai dalam amanah konstitusi. Baik dari agenda pembrantasan korupsi, mengeluarkan kode etik bagi legislator (pembuat undang-undang) supaya tidak kerumah mesum, sampai menempatkan perkara Ahmadiyah hingga yang terakhir menggusur kekuatan Nurdin sebagai ketua PSSI juga tidak menemui jalan yang jitu. Belum pula perkara markus-markus dan karakter korupsi di negara ini meramaikan media yang tidak kunjung reda dan berakhir tanpa selalu berkekuatan hukum.
Para pengamat mengatakan secara politik segala sesuatu akan bermuara kepada autoritas pemerintah dan tentunya ke presiden. Kewibawaan politik presiden yang dipilih secara demokratis dan memenangkan suara lebih dari 60% tetapi tidak memiliki majoritas di parlem memang mendesak SBY untuk berulang kali mengadakan kalkulasi politik. Yang mana tidak selalu mencerminkan komitment politiknya pada waktu kampanye. Setelah hak angket dilewati, ada reshaful yang meletihkan untuk publik mengkuti dimana manfaatnya dan tidak mencerminkan sebuah stabilitas.
Ujian berdemokrasi lagi, dan pelaksanaan konstitusi adalah kasus Ahmadiyah. Baik dari modus operandi kejadian hingga terakhir beberapa gubernur dengan tekanan akhirnya tidak mengizinkan Ahmadiyah di daerahnya. Sedang menteri Djoko Suyanto telah mengatakan kalau Negara tidak mengatur tentang keyakinan.
Tulisan ini bukan mengulang apa yang telah ditumpahkan dalam media tentang keyakinan tidak bisa diatur oleh pemerintah, tetapi tetap saja pemerintah daerah yang melakukannya. Kali ini saya ingin bangkit dari kelelahan tentang inertia ide dan perjuangan atas "ideologi-ideologi" Pancasila. Bangkit dari orasi dan jargon politik diwarung kedai dengan gaya borjuasi para penguasa , baik dari DPR dan penegak hukum lainnya.
Tanpa pernah mendengar analisa dengan pendekatan struktural. Tidak pula melihat dengan perspecktif historis, kalau kaum minoritas selalu diperlakukan deskriminatif, padahal dilindungi oleh konstitusi. Sejarah perebutan kekuasaan yang menggunakan kedok agama pelan-pelan memperburuk NKRI dan hidup dalam kemajemukan. Sejarah para Wahabi di abad ke 6 perlu kita bedah dan dipertanyakan apakah gejala-gejala penumpasan kaum minoritas mulai merambah ke tanah air kita.
Sejarah penghasutan atau manipulasi melalui teror itu memang tumbuh sejak perang para pangeran di era Majapahit, Mataram dan melawan kolonial. Autoritas yang melemah di desak dan diuji pada setiap integritas ideologi berbangsa dan bernegara.
Mengapa rakyat (populis) belum bergerak atau melakukan perlawanan dengan gerakan budaya. Bukankah mereka semua sedang kelelahan melihat gejala pelemahan pemerintah yang mereka pilih. Disini peluang untuk agenda-agenda besar akan digelindingkan untuk melihat berapa kokohnya pemerintah ini. Apakah diam itu passive tak berdaya? Apakah menguji juga paham tentang demokrasi yang kita miliki?
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Monday, February 21, 2011
Wednesday, December 29, 2010
RAKYAT BERSUARA.. BANGSA PENUH BERHARAP DI 2011
Betapa letih kondisi rakyat Indonesia yang telah diombang ambingkan dengan gelombang perubahan kekuasaan sejak 1998. Demikian lahirlah "reformasi" yang menggeser era "Orde Baru". Disamping rentetan bencana alam yang sejak 2004 selalu merobek keheningan rakyat. Dimana kemapanan ekonomi kian tak tercapai, kian menyulitkan. Lebih tepatnya yang kaya makin setambah kaya. Sedang yang miskin makin tidak punya masa depan. Belum lagi media yang bertubi-tubi menghalau kebobrokan martabat dan integritas para pelaku politik dan penguasa. Orientasi bangsa sekali lagi kian membingungkan.
Dalam keadaan terjepitpun rakyat tidak minta perlindungan kepada siapapun, karena rakyat akan bisa mengakhiri segala ketidak setujuan tersebut dengan cara "populis". Seperti rakyat Perancis yang menyeret raja Louis XIV dan isterinya Marie Antoinette ke meja Guillotine dan kepala mereka dipenggal dihadapan rakyat, mengkahiri kekuasaan kerajaan yang tanpa batas.
Seperti kekuasaan Soeharto tumbang ditangan para mahasiswa yang mendesak reformasi ditegakan. Mereka yang berkuasa agar memiliki kemampuan bercermin pada sejarah. Rakyat tidak akan merengek-rengek karena kekuatan tenaga, hati nurani mereka sudah terkuras habis dengan perbaikan hidup yang tidak kunjung tiba.
Titik "kesabaran" biasanya tidak selalu dipacu untuk menggulingkan kekuasaan, atau sebaliknya dengan mudahnya ditunggangi oleh kekuasaan politik tertentu. Gerakan selalu memiliki nilai yang luhur untuk bangsa: menyusun kembali martabat dan ukuran "kemanusiaan" yang selama ini digilas oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Penentang populis menjadi homogen dan konsertasi (terpusatkan) meluas dan rata secara nasional.
Pada sisi lain, bila rakyat saat ini tidak bersuara bukan berarti rakyat tidak bekerja atau tidak mengamati perubahan pada titik-titik kekuasaan. Pengumpulan gerakan populis, perlu kekuatan atau saat merevitalisasi diri memang membutuhkan gugus generasi yang baru, lebih muda, lebih gigih, lebih kritis. Banyak orang mencerminkan kalau suporter Timnas lebih bermartabat daripada para wakil rakyat untuk hal-hal kepatuhan dan santun. Poupulis memang tidak banyak menuntut, sangat sederhana membuat hati mereka bahagia. Dalam keadaan kesulitanpun mereka tetap coba untuk tidak membebani yang lain.
Disinilah keseimbangan pada titik "luapan berontak", menjadi tanda tanya untuk orang-orang ahli analisa politik, bagaimana menggerakan rakyat untuk kepentingan agenda-agenda kekuatan politik. Tidak hanya mengeksploitasi luapan masa. Dilain sisi juga harus bisa menghapus, meredam kekecewaan atau kemiskinan yang secara struktural. Keseimbangan pada ambang pemberontakan tersebut selalu bekerja dan bergerak secara anonim. Para pahlawan yang gugur di Trisakti dan Semanggi mereka tidak menjual dirinya sebagai pahlawan. Bahkan keberadaan nama merekapun masih simpang siur dalam konteks sejarah moderen Indonesia.
Rakyat bersuara tanpa kata atau tanpa slogan politik. Inilah cermin yang perlu dicermati oleh para politikus. Agar suara mereka tidak disandra menjadi keuntungan mereka belaka. Sekalipun proses dan pendekatannya diberi lebel demokrasi. Bisakah bangsa ini juga berharap pada rakyatnya agar menentukan perjalanan sejarah yang tidak berdarah dan penuh kebijakan.
Dalam keadaan terjepitpun rakyat tidak minta perlindungan kepada siapapun, karena rakyat akan bisa mengakhiri segala ketidak setujuan tersebut dengan cara "populis". Seperti rakyat Perancis yang menyeret raja Louis XIV dan isterinya Marie Antoinette ke meja Guillotine dan kepala mereka dipenggal dihadapan rakyat, mengkahiri kekuasaan kerajaan yang tanpa batas.
Seperti kekuasaan Soeharto tumbang ditangan para mahasiswa yang mendesak reformasi ditegakan. Mereka yang berkuasa agar memiliki kemampuan bercermin pada sejarah. Rakyat tidak akan merengek-rengek karena kekuatan tenaga, hati nurani mereka sudah terkuras habis dengan perbaikan hidup yang tidak kunjung tiba.
Titik "kesabaran" biasanya tidak selalu dipacu untuk menggulingkan kekuasaan, atau sebaliknya dengan mudahnya ditunggangi oleh kekuasaan politik tertentu. Gerakan selalu memiliki nilai yang luhur untuk bangsa: menyusun kembali martabat dan ukuran "kemanusiaan" yang selama ini digilas oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Penentang populis menjadi homogen dan konsertasi (terpusatkan) meluas dan rata secara nasional.
Pada sisi lain, bila rakyat saat ini tidak bersuara bukan berarti rakyat tidak bekerja atau tidak mengamati perubahan pada titik-titik kekuasaan. Pengumpulan gerakan populis, perlu kekuatan atau saat merevitalisasi diri memang membutuhkan gugus generasi yang baru, lebih muda, lebih gigih, lebih kritis. Banyak orang mencerminkan kalau suporter Timnas lebih bermartabat daripada para wakil rakyat untuk hal-hal kepatuhan dan santun. Poupulis memang tidak banyak menuntut, sangat sederhana membuat hati mereka bahagia. Dalam keadaan kesulitanpun mereka tetap coba untuk tidak membebani yang lain.
Disinilah keseimbangan pada titik "luapan berontak", menjadi tanda tanya untuk orang-orang ahli analisa politik, bagaimana menggerakan rakyat untuk kepentingan agenda-agenda kekuatan politik. Tidak hanya mengeksploitasi luapan masa. Dilain sisi juga harus bisa menghapus, meredam kekecewaan atau kemiskinan yang secara struktural. Keseimbangan pada ambang pemberontakan tersebut selalu bekerja dan bergerak secara anonim. Para pahlawan yang gugur di Trisakti dan Semanggi mereka tidak menjual dirinya sebagai pahlawan. Bahkan keberadaan nama merekapun masih simpang siur dalam konteks sejarah moderen Indonesia.
Rakyat bersuara tanpa kata atau tanpa slogan politik. Inilah cermin yang perlu dicermati oleh para politikus. Agar suara mereka tidak disandra menjadi keuntungan mereka belaka. Sekalipun proses dan pendekatannya diberi lebel demokrasi. Bisakah bangsa ini juga berharap pada rakyatnya agar menentukan perjalanan sejarah yang tidak berdarah dan penuh kebijakan.
Monday, December 27, 2010
TIMNAS...TARIK NAFAS, KITA KALAH PADA BABAK 1
Secara objektif permainan Timnas tidak ada perpaduan diantara para pemain. Pertahanan yang masih tercerai berai. Lawan Timnas lebih mengadakan presing dan menyerang. Konklusi semetara kita kalah 3-0.
Coba kita lihat dimana yang harus kita tinjau dan pelajaran dari "euphoria". Hampir semua pemain politik, baik dari kubu SBY, Golkar dan bahkan institusi PSSI coba memetik keuntungan dari "euphoria" Timnas ke babak final. Selain dari pelaku politik dan para pejabat ada juga element yang ikut berperan membakar "euphoria" rakyat, yaitu media. Khususnya media elektronik. Bahkan ada disatu chanel tv mentayangkan Timnas hampir 15 kali dalam 1 hari tanpa adanya berita baru.
Bebearpa nara sumber di media elektronik mengungkapkan kalau "euphoria" Timnas memiliki potensi mempersatukan bangsa yang sempat beberapa tahun ini bermasalah. Asalkan bisa dikanalisasi ke arah yang positif. Semua para aktor bangsa sebaiknya segera memberikan arahan terhadap kesempatan pemersatu bangsa. Demikian juga kalau Timnas gagal memperoleh gelar juara.
Ada beberapa lapisan makna atas munculnya Timnas dimakna berbangsa (nasionalis), prestasi atas sport itu sendiri yang didambakan oleh segenap lapisan rkayat Indonesia. Dimana ada makna sosio kultural yang bisa berarti bagi bangsa: unsur kedisplinan, unsur pendidikan, mendukung lambang-lambang perjuangan identitas nasional dan berbangsa. Hanya saja "euphoria" ini akan pudar dan susah sekali dibangun bila kesejahteraan rakyat banyak juga tidak diwujudkan dikehdiupan sehari-hari. Berhubung sepak bola dengan kemenangan sekalipun akan memiliki batasan untuk bisa memajuka kemampuan ekonomi seluruh rakyat indonesia.
Kekalahan pada babak 1 lebih pantas untuk kita meredam keingnan yang bermuluk muluk, dan lebih menginjakan kaki diatas bumi pertiwi dengan segala kelemahan yang pantas diperbaiki.
Sampai tanggal 29 Desember mendatang, dimana kita berhadapan dengan cermin bangsa yang dewasa dan bertanggung jawab atas langkah sejarah yang ingin kita tempuh.
Coba kita lihat dimana yang harus kita tinjau dan pelajaran dari "euphoria". Hampir semua pemain politik, baik dari kubu SBY, Golkar dan bahkan institusi PSSI coba memetik keuntungan dari "euphoria" Timnas ke babak final. Selain dari pelaku politik dan para pejabat ada juga element yang ikut berperan membakar "euphoria" rakyat, yaitu media. Khususnya media elektronik. Bahkan ada disatu chanel tv mentayangkan Timnas hampir 15 kali dalam 1 hari tanpa adanya berita baru.
Bebearpa nara sumber di media elektronik mengungkapkan kalau "euphoria" Timnas memiliki potensi mempersatukan bangsa yang sempat beberapa tahun ini bermasalah. Asalkan bisa dikanalisasi ke arah yang positif. Semua para aktor bangsa sebaiknya segera memberikan arahan terhadap kesempatan pemersatu bangsa. Demikian juga kalau Timnas gagal memperoleh gelar juara.
Ada beberapa lapisan makna atas munculnya Timnas dimakna berbangsa (nasionalis), prestasi atas sport itu sendiri yang didambakan oleh segenap lapisan rkayat Indonesia. Dimana ada makna sosio kultural yang bisa berarti bagi bangsa: unsur kedisplinan, unsur pendidikan, mendukung lambang-lambang perjuangan identitas nasional dan berbangsa. Hanya saja "euphoria" ini akan pudar dan susah sekali dibangun bila kesejahteraan rakyat banyak juga tidak diwujudkan dikehdiupan sehari-hari. Berhubung sepak bola dengan kemenangan sekalipun akan memiliki batasan untuk bisa memajuka kemampuan ekonomi seluruh rakyat indonesia.
Kekalahan pada babak 1 lebih pantas untuk kita meredam keingnan yang bermuluk muluk, dan lebih menginjakan kaki diatas bumi pertiwi dengan segala kelemahan yang pantas diperbaiki.
Sampai tanggal 29 Desember mendatang, dimana kita berhadapan dengan cermin bangsa yang dewasa dan bertanggung jawab atas langkah sejarah yang ingin kita tempuh.
Wednesday, December 15, 2010
NASIONALIS DAN SEPAK BOLLA: BUDAYA MODERNITAS 1
Panggilan klub nasional dari Republik Indonesia memiliki julukan baru adalah Timnas ( Tim Nasional) dalam kelahiran sejarahnya dia pernah diberik julukan PSSI. Keberadaan nama Timnas memiliki perjalanan politik internal yang tersendiri. Hari ini, tanggal 16 Desember Timnas akan berhadapan dengan Filipina untuk menyelsaikan tugas nasionalnya menjadi pemenang di babak Semi-Final.
Beberapa rangkaian hadirnya Timnas ini dikehidupan bangsa tiba-tiba menjadi sorotan mediatik. Sekalipun telah mengalahkan Tahiland 2-1 dimana sebelumnya telah mengalahkan Laos 5-1.
Mengapa fenomena Timanas ini menjadi menarik perhatian bangsa hari ini. Coba kita bedah secara struktral:
Kontekstual
Diantara kejadian beberapa tahun terakhir ini baik dari malapetaka alam, baik Tsunami, Gempa, letusan gunung berapi dan banyak hal lain lagi yang telah melanda bangsa ini. Dilain pihak cuaca pertikaian politik dalam negri sama sekali tidak menyejukan kehidupan berbangsa. Baik mulai dari masalah korupsi hingga keberadaan Keistimewaan Jogyakarta yang akan mengurangi peranan Sultan pada pemerintahan modern. Diskusi para ahlipun mengingatkan agar tidak melupakan sejarah. Dilain pihak para ahli demkrasi juga menyuarakan agar kepimpinan itu lahir dari bawah dan terpilih langsung. Disinilah Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang menjalani "test and Proper", diuji baik dari kemampuan menjawab keunikan dan kesitimewaan dibawah UUD 45. Disamping tantangan mengatasi kehidupan sehari hari pada akhir tahun yang mendesak harga bahan pokok naik. Belum lagi masyarakat yang belum siap untuk dicabut keseluruhan subsidi.
Cermin dari Kerinduan Masyarakat
Sosiologue besar Nobert Elias pernah melakukan penelitian dimana penemuannya terhadap aktivitas "sport" adalah penyaluran "pelampiasan" atas kekerasan kolektif didalam masyarakat ke arah yang lebih kostruktif. Processus of of the Civilisation, dalam masyarakat Indonesia modern dimana sepak bola adalah salah satu bagian (composant) dari langkah Indonesia untuk tampil kepermukaan untuk diterima dalam masyarakat International.
Kemenangan dari Timnas adalah salah satu cermin kerinduan atas "pencapaian" keberhasilan. Walaupun belum mejadi pemenang akhir, tetapi prosesus "communion" kebersamaan, kesatuan (pemersatu) bangsa atas pencapaian keberhasilan yang demikian dirindukan. Lambang garuda yang menjadi "bagian" elemen penting dalam gelar pertandingan AFF Timnas. Nyanyian "garuda didadaku"...adalah lambang dari nasionalisme menjadi packaging modernitas, menyangkut lambang negara dan segala implikasi komersialnya. Harapan dan kerinduan rakyat atas kejayaan Indonesia demikian besar. Bisa kita lihat dari seluruh media masa yang meliput kehadiran penonton dari luar daerah yang bertekad berjuang untuk membeli tiket menonton di Senayan. Untuk sementara semua sedang membuat prediksi atas pertemuan Timnas dengan Filipina yang kedua kali nanti di hari Minggu.
Beberapa rangkaian hadirnya Timnas ini dikehidupan bangsa tiba-tiba menjadi sorotan mediatik. Sekalipun telah mengalahkan Tahiland 2-1 dimana sebelumnya telah mengalahkan Laos 5-1.
Mengapa fenomena Timanas ini menjadi menarik perhatian bangsa hari ini. Coba kita bedah secara struktral:
Kontekstual
Diantara kejadian beberapa tahun terakhir ini baik dari malapetaka alam, baik Tsunami, Gempa, letusan gunung berapi dan banyak hal lain lagi yang telah melanda bangsa ini. Dilain pihak cuaca pertikaian politik dalam negri sama sekali tidak menyejukan kehidupan berbangsa. Baik mulai dari masalah korupsi hingga keberadaan Keistimewaan Jogyakarta yang akan mengurangi peranan Sultan pada pemerintahan modern. Diskusi para ahlipun mengingatkan agar tidak melupakan sejarah. Dilain pihak para ahli demkrasi juga menyuarakan agar kepimpinan itu lahir dari bawah dan terpilih langsung. Disinilah Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang menjalani "test and Proper", diuji baik dari kemampuan menjawab keunikan dan kesitimewaan dibawah UUD 45. Disamping tantangan mengatasi kehidupan sehari hari pada akhir tahun yang mendesak harga bahan pokok naik. Belum lagi masyarakat yang belum siap untuk dicabut keseluruhan subsidi.
Cermin dari Kerinduan Masyarakat
Sosiologue besar Nobert Elias pernah melakukan penelitian dimana penemuannya terhadap aktivitas "sport" adalah penyaluran "pelampiasan" atas kekerasan kolektif didalam masyarakat ke arah yang lebih kostruktif. Processus of of the Civilisation, dalam masyarakat Indonesia modern dimana sepak bola adalah salah satu bagian (composant) dari langkah Indonesia untuk tampil kepermukaan untuk diterima dalam masyarakat International.
Kemenangan dari Timnas adalah salah satu cermin kerinduan atas "pencapaian" keberhasilan. Walaupun belum mejadi pemenang akhir, tetapi prosesus "communion" kebersamaan, kesatuan (pemersatu) bangsa atas pencapaian keberhasilan yang demikian dirindukan. Lambang garuda yang menjadi "bagian" elemen penting dalam gelar pertandingan AFF Timnas. Nyanyian "garuda didadaku"...adalah lambang dari nasionalisme menjadi packaging modernitas, menyangkut lambang negara dan segala implikasi komersialnya. Harapan dan kerinduan rakyat atas kejayaan Indonesia demikian besar. Bisa kita lihat dari seluruh media masa yang meliput kehadiran penonton dari luar daerah yang bertekad berjuang untuk membeli tiket menonton di Senayan. Untuk sementara semua sedang membuat prediksi atas pertemuan Timnas dengan Filipina yang kedua kali nanti di hari Minggu.
Thursday, April 1, 2010
STEVE JOB, APPLE MERUBAH PERDABAN BERKOMPUTER

Nampak dengan diluncurkannya iPad, sekali lagi Steve Job, pendiri Apple komputer akan merubah seluruh peradaban berkomputer. Bayangkan saja, tidak ada produk tekhnoogi modern sekaliber Apple, memperoleh eksposure di media berhari hari bahkan sejak Januari 2010 waktu diperkenalkannya produk terbaru iPad.
Minggu belakgangan ini, Steve Job ada diseluruh media di Amerika, Newsweek, Time, New York Times, Wall Street Journal belum lagi media elektronik. Mengapa iPad demikian menggemparkan? iPad ditulis dengan iPhone OS, tidak lagi seperti OS Leopard dan generasinya. Dia di tulis untuk iPhone dan iPod, "mobile computing". iPad menurut beberapa editorialist di US, adalah membuat kita terlupakan kalau kita memanipulasi sebuah komputer. Betapa mudah mengoperasikan, seperti kalau download, file gambar dia langsung mencari sendiri folder 'picture".
Waktu pertama kali saya menyentuh dan memiliki Apple II E di tahun 1980. Tidak lama kemudian perseteruan tehknologi dimulai dengan konsep berkomputer yang kita kenal hari ini PC. Sejak tahun itu saya masuk kedalam golongan orang-orang yang "loyal" dengan konspet berkomputer, karena waktu itu Apple bukan mengorganisasi file seperti di PC, melainkan menggunakan iconography, dengan symbol-symbol untuk memamnipulasi organisasi file. Hari ini pengikut PC harus befikir keras, karena produsen PC sudah tidak bisa membuat pembahruan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh dominasi Microsoft. Jumlah produsen juga meningkat, dimana profit margin PC makin menipis.
Ditahun 2000 kekayaan perusahaan Apple hanya US $ 5 milyar dimana saat ini bernilai US $ 170 milyar. Memiliki kekuatan cash ditangan sebesar US $ 34 milyar. Mereka akan bisa memperkuat home computing, menggeser Sonny dan yang lain-lainnya. Mengapa? Berhubung, mereka memiliki Operating System sendiri, pembuatan tehnologi mesin komputer, dan penjualan musik sendiri. Hal ini membuat kekuatan Apple menjadi "independent" untuk menyusun strategy tehnology dimasa mendatang. Mereka selalu kesulitan untuk mengelola pembuatan di China, terutama dengan isu "Human Right". Tahun lalu waktu Obama terpilih, ada yang membocorkan kalau Apple bisa membuat pabrik sendiri dengan super robotik. Dalam konteks industri "green". Segalanya akan lebih murah membuatnya. Hal ini sangat didukung oleh administrasi Obama.
Menurut Fortune Apple lebih cantik pertumbuhannya dari pada Wallmart yang sedikit dibawah Apple, nilai kapitalisasi pasar mencapai US$ 114 milyar, sedang Apple sudah mencapai US $ 170 milyar, dimana google bernilai US $ 134 milya.
Benarkah Apple akan merubah cara kita berkomputer. Lihat saja, waktu dia baru kembali mempini Apple di tahun 2000, setahun kemudian dia mengeluarkan iTune. Dalam sekejap seluruh perusahaan Musik di seluruh dunia akhirnya bangkrut. Di iringi dengan dikeluarkannya iPod di tahun 2002. Produk yang terjual telah mencapai ratusan juta didunia. Sekarang Apple coba merambaha dari home computing hingga mejual dan mendengarkan musik, sampai melaukan pekerjan-pekerjaan di komputer, hingga seluruh media cetak di Amerika sedang menyusun strategy untuk beraliansi dengan Apple agar bisa di terbikan di iPad. Semua telah memahami kalu industri media cetak di negara maju pelan-pelan mati suri dan bahkan beberapa sudah tutup.
Berapa banyak kemudahan atau transformasi yang bisa dilakukan melalui produk-produk Apple. Hampir 25 juta iPhone terjua didunia. Sekakrang diprediksi iPad akan bisa terjual hingga 7 juta biji. Dimana rata-rata harga sekitar US $400-$ 890. Mudah saja untuk membuat perkalian, Apple bisa memperoleh tambahan revenue dari iPad sendiri US $ 3,5 hingga US $ 5 milyar untuk tahun ini. Bagi mereka yang masih menggunakan PC, saatnya merenung. Atau menunggu hingga Microsoft mengeluarkan tehnologi yang lebih menyegarkan. Para pengikut Apple, sudah saatnya memkapitalisasi komputer yang dimiliki, bersiap siap untuk diganti yang lebih baru. Kalau di budaya Apple, terkenal dengan slogan "Think Different", mungkin ini yang mendasari aliran peradaban berkomputer Apple.
Apple
Fortune
Tuaw
Monday, March 8, 2010
RADIO STREAMING BAHASA JAWA DITENGAH HUJANNYA INFORMASI ELEKTRONIK
Menarik sekali untu disimak, makin media elektronik mendominasi ruang kehidupan. Tayangan televisi hadir hampir secara permanen diruang spasial rumah tangga. Bahkan hampir ruang tunggu kantor-kantor pemerintahan, Bank, kantor swasta lainnya banyak pula yang membuat kehadiran televisi sebegai pelunak suasana. Disisi lain, malah memiliki kesan sangat berlebihan adanya televisi yang sanantiasa hadir dalam aktivitas sehari-hari, bahkan hal-hal yang paling "privasi", seperti konsultasi ke dokter dimana ruangannya juga ada televisi. Hingga kehadiran televisi mengambil alih perhatian dan tugas publik masyarakat adalah "saling bersilahturahmi" dengan sopan santun. Keindividualan tersebut bersembunyi yang dihalalkan oleh interaksi publik yaitu dengan hadirnya televisi pada ruang umum. Hampir secara sistemitas hadirnya televisi dan jam berapa saja dia hadir tidak pandang bulu dengan acara apa saja bisa diartikan sebagai polusi inforamsi dan hiburan.
Disis lain tekanan dan dominasi media telivisi program-program yang rata-rata kualitasnya, bahkan pada chanel tertentu sangat buruk. ntuk masyarakat diplosok Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawaw tengah, radio masih memegang peran yang uar biasa untuk dialog budaya dan informasi seputar kehidupan sehari hari. Tidak sedikit yang menggunakan 2 bahasa, bahasa lokal dan bahasa indonesia. Mereka tetap menghibur dengan corak "lokal", baik bahasa, dan topik yang dikonsumsi masyarakat lokal. Ragam programpun, bukan hanya lagu-lagu tahun 80an tetapi juga "campur sari" dan gendhing jawa. setiap satu bulan sekali di malam Jumat dan malam Minggu salah satu diantara mereka menyiarkan wayang kulit. Peran yang dahulu lebih dilakukan oleh RRI. Saat ini kemajuan elektronik khususnya internet mampu buat mereka untuk tidak siaran pada spasial Loka Jogya, atau Wonogiri tetapi sudah bisa mendunia. Dimana audiensi mereka secara geografis telah menyebar ke seluruh kota besar. Menarik untuk dianalisa kalau strata sosial audiensi radio lokal tersebut tidak lagi membutuhkan strate sosial yang menengah atau tinggi, karena nampaknya internet telah merambah kesemua lapisan. Ini bisa dilihat dari program yang mereka sajikan.
Selamat keragaman budaya yang mulai menemukan platform modernitas dan beradapatasi dengan perkembangan tehknology tanpa mengorbankan keragaman busaya jawa.
Radio Jogya Streaming
Musik Jawa
Radio Time
Disis lain tekanan dan dominasi media telivisi program-program yang rata-rata kualitasnya, bahkan pada chanel tertentu sangat buruk. ntuk masyarakat diplosok Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawaw tengah, radio masih memegang peran yang uar biasa untuk dialog budaya dan informasi seputar kehidupan sehari hari. Tidak sedikit yang menggunakan 2 bahasa, bahasa lokal dan bahasa indonesia. Mereka tetap menghibur dengan corak "lokal", baik bahasa, dan topik yang dikonsumsi masyarakat lokal. Ragam programpun, bukan hanya lagu-lagu tahun 80an tetapi juga "campur sari" dan gendhing jawa. setiap satu bulan sekali di malam Jumat dan malam Minggu salah satu diantara mereka menyiarkan wayang kulit. Peran yang dahulu lebih dilakukan oleh RRI. Saat ini kemajuan elektronik khususnya internet mampu buat mereka untuk tidak siaran pada spasial Loka Jogya, atau Wonogiri tetapi sudah bisa mendunia. Dimana audiensi mereka secara geografis telah menyebar ke seluruh kota besar. Menarik untuk dianalisa kalau strata sosial audiensi radio lokal tersebut tidak lagi membutuhkan strate sosial yang menengah atau tinggi, karena nampaknya internet telah merambah kesemua lapisan. Ini bisa dilihat dari program yang mereka sajikan.
Selamat keragaman budaya yang mulai menemukan platform modernitas dan beradapatasi dengan perkembangan tehknology tanpa mengorbankan keragaman busaya jawa.
Radio Jogya Streaming
Musik Jawa
Radio Time
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)