Dari sejak tulisan terakhir tanggal 29 Desember 2010, saya sengaja menahan diri untuk tidak ikut membanjiri berita-berita yang sedang melilit di masyarakat Indonesia. Masing-masing kubu sedang mengeluarkan jurus maboknya untuk dapat memperoleh manfaat politik dari semua yang sedang digelindingkan melalui media.
Hingga yang terakhir, malah para agamawanpun juga mengangkat bicara tentang republik dan pemerintahan. Seakan-akan angkat suara ditengah-tengah aneka ragam perkara yang digelar melalui media ini telah menjadi wabah. Masyarakat Indonesia sedang di seret oleh kekuatan media, kalau seluruh perkara bisa diselesaikan melalui media. Lihat isu daerah Istimewa Jogyakarta, atau isu mafia-mafia atau perkara-perkara yang nempel di kehidupan kita. Tiada hentinya melakukan "demontrasi" kekuatan opini. Proses demokrasi yang keluar dari garis "bijaksana" dan kedewasaan (bermartabat) berepublik. Contoh yang extrim atas mobilisasi opini berdarah adalah tetnagga kita Tahiland. Bukan tanpa korban, tetapi juga pemulihan ekonomi yang panjang.
Sama sekali berita-berita tersebut tidak memberikan inspirasi kepada generasi muda, nampak sekali permainan politik atau kekuasaan yang begitu asing untuk rakyat jelata.Tekanan kehdupan tidak juga mengarah meringkan, yang jelas berita-berita itu semua tidak membawa perubahan yang mendasar.
Rakyat selalu akan menempatkan kata akhirnya. Rakyat selalu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berdaulat, untuk menentang kekuasaan siapa saja yang dipndang telah melampaui batas! Hanya rakyat sendiri yang bisa mewujudkan. Rakyat selalu menyusun kekuatan dengan siluman. Gerakan dibawah tanah yang tidak terdeteksi oleh media-media besar.
Rakyat akan mengokreksi seluruh perebutan kekuasaan.
Proses keterbukaan yang telah ada akan lebih memudahkan rakyat untuk berkonsultasi dengan yang dipandang mulia dan bijaksana. Dalam konteks ini sudah jelas mereka tidak akan berkilblat kepada pemerintah atau penguasa.
Kita tunggu munculnya barisan yang akan mengawali pembahruan diatas bumi Indonesia ini.
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Saturday, January 22, 2011
Monday, March 8, 2010
RADIO STREAMING BAHASA JAWA DITENGAH HUJANNYA INFORMASI ELEKTRONIK
Menarik sekali untu disimak, makin media elektronik mendominasi ruang kehidupan. Tayangan televisi hadir hampir secara permanen diruang spasial rumah tangga. Bahkan hampir ruang tunggu kantor-kantor pemerintahan, Bank, kantor swasta lainnya banyak pula yang membuat kehadiran televisi sebegai pelunak suasana. Disisi lain, malah memiliki kesan sangat berlebihan adanya televisi yang sanantiasa hadir dalam aktivitas sehari-hari, bahkan hal-hal yang paling "privasi", seperti konsultasi ke dokter dimana ruangannya juga ada televisi. Hingga kehadiran televisi mengambil alih perhatian dan tugas publik masyarakat adalah "saling bersilahturahmi" dengan sopan santun. Keindividualan tersebut bersembunyi yang dihalalkan oleh interaksi publik yaitu dengan hadirnya televisi pada ruang umum. Hampir secara sistemitas hadirnya televisi dan jam berapa saja dia hadir tidak pandang bulu dengan acara apa saja bisa diartikan sebagai polusi inforamsi dan hiburan.
Disis lain tekanan dan dominasi media telivisi program-program yang rata-rata kualitasnya, bahkan pada chanel tertentu sangat buruk. ntuk masyarakat diplosok Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawaw tengah, radio masih memegang peran yang uar biasa untuk dialog budaya dan informasi seputar kehidupan sehari hari. Tidak sedikit yang menggunakan 2 bahasa, bahasa lokal dan bahasa indonesia. Mereka tetap menghibur dengan corak "lokal", baik bahasa, dan topik yang dikonsumsi masyarakat lokal. Ragam programpun, bukan hanya lagu-lagu tahun 80an tetapi juga "campur sari" dan gendhing jawa. setiap satu bulan sekali di malam Jumat dan malam Minggu salah satu diantara mereka menyiarkan wayang kulit. Peran yang dahulu lebih dilakukan oleh RRI. Saat ini kemajuan elektronik khususnya internet mampu buat mereka untuk tidak siaran pada spasial Loka Jogya, atau Wonogiri tetapi sudah bisa mendunia. Dimana audiensi mereka secara geografis telah menyebar ke seluruh kota besar. Menarik untuk dianalisa kalau strata sosial audiensi radio lokal tersebut tidak lagi membutuhkan strate sosial yang menengah atau tinggi, karena nampaknya internet telah merambah kesemua lapisan. Ini bisa dilihat dari program yang mereka sajikan.
Selamat keragaman budaya yang mulai menemukan platform modernitas dan beradapatasi dengan perkembangan tehknology tanpa mengorbankan keragaman busaya jawa.
Radio Jogya Streaming
Musik Jawa
Radio Time
Disis lain tekanan dan dominasi media telivisi program-program yang rata-rata kualitasnya, bahkan pada chanel tertentu sangat buruk. ntuk masyarakat diplosok Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawaw tengah, radio masih memegang peran yang uar biasa untuk dialog budaya dan informasi seputar kehidupan sehari hari. Tidak sedikit yang menggunakan 2 bahasa, bahasa lokal dan bahasa indonesia. Mereka tetap menghibur dengan corak "lokal", baik bahasa, dan topik yang dikonsumsi masyarakat lokal. Ragam programpun, bukan hanya lagu-lagu tahun 80an tetapi juga "campur sari" dan gendhing jawa. setiap satu bulan sekali di malam Jumat dan malam Minggu salah satu diantara mereka menyiarkan wayang kulit. Peran yang dahulu lebih dilakukan oleh RRI. Saat ini kemajuan elektronik khususnya internet mampu buat mereka untuk tidak siaran pada spasial Loka Jogya, atau Wonogiri tetapi sudah bisa mendunia. Dimana audiensi mereka secara geografis telah menyebar ke seluruh kota besar. Menarik untuk dianalisa kalau strata sosial audiensi radio lokal tersebut tidak lagi membutuhkan strate sosial yang menengah atau tinggi, karena nampaknya internet telah merambah kesemua lapisan. Ini bisa dilihat dari program yang mereka sajikan.
Selamat keragaman budaya yang mulai menemukan platform modernitas dan beradapatasi dengan perkembangan tehknology tanpa mengorbankan keragaman busaya jawa.
Radio Jogya Streaming
Musik Jawa
Radio Time
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)