"During my lifetime I have dedicated myself to this struggle of the African people. I have fought against white domination, and I have fought against black domination. I have cherished the ideal of a democratic and free society in which all persons live together in harmony and with equal opportunities. It is an ideal which I hope to live for and to achieve. But if needs be, it is an ideal for which I am prepared to die."......,NELSON MANDELA

Saturday, November 14, 2015




DUKACITA PARIS


SOLIDARITE AVEC VOUS, FRANCE!


Bukan nilai kehidupan yang menjadi target. Bukan Langkah politik sebuah negara yang dituju. Tetapi Sebuah resolusi kelanjutan manusia beroganisasi berkelanjutan dengan perjalanan sejarah hingga hari ini! Resolusi kehidupan yang yang kita jalani tidak akan bisa ditumpas oleh siapapun!. Tidak juga sebuah ideologi, agama sekalipun yang akan coba menghapuskan kehidupan yang dibangun bersama, dengan cita-cita dan persiapan generasi mendatang. Dirubah, diperbaiki, tetapi bukan dengan penumpasan!


Bali, November 2015

Thursday, October 22, 2015

ROCKING POSITION 

PREPARATION MEETING IN BONN FOR PARIS CONFERRENCE


20 October 2015

156 Countries signing some majors text which has some crucial issues. Thanks to the civil society group who wave the flag on producing more "balance text" for Paris negotiation. 
Specially the countries represented by G 77 and China (134 countries), where Indonesia is represented. Listening from various negotiators members which presided by South African some themes on negotiation such Lost and Damage cost is still not accepted by the rich countries.

Listening their Press Conference in Bonn meeting starting from 19th October 2015 the attitude and strategies layout by the developed countries basically don't want to pay Lost and Damage. http://unfccc6.meta-fusion.com/bonn_oct_2015/events

The other hand if the country like Indonesia has submitted unrealistic INDC on last September 2015:http://climateactiontracker.org/news/229/Indonesias-climate-plans-lack-transparency-and-credibility.html

The Jakarta Post called on their article .."half hearted promised"!!http://m.thejakartapost.com/news/2015/10/09/indonesia-s-climate-plan-signals-a-half-hearted-promise.html
Perhaps most urgent to notify is lacking to bring the climate change issues on national debate.

Recently government is about to go head by making electrical power by coal based.
Even with President Jokowi visited in Saudi Arabia recently having joint venture deal on fossil fuel.

Is rocking position in very crucial moment. National media bombarded the attention on forest fire in tow big island, Sumatra and Kalimantan and disrupt neighbour countries until souther Thailand.

ASWR

Friday, October 9, 2015



CLIMATE CHANGE: FOOD SELF-SUFFICIENT 

APPROACH TO ENERGISING THE INDONESIAN COMBATING RASING CO2


This Food Forest Garden project in Jakarta will be sensible enough to bring hope on combating the climate change. Food is long historical scariness for Indonesian population. Not very much for younger generation but it is still present for the vas majority of rural population. After the falling of Soekarno the country set up on agriculture strategy on self-sufficient rice production. But after the falling of Soeharto regime Indonesia is back on importing rice. Rice still to be consider of politic barometer stability. But indonesian agriculture have more than rice production.

FOREST RIGHT IN THE MIDLLE OF JAKARTA



Not just the architecture narration what is important but the message the whole on Transition Economy model what is matter.




WISH WE ALL TO BE THERE





So many home works has to be done. Energising family, friends, communities and government officials to look at that we are entering on transition period. Cutting reducing again the fuel price in the country it does not mean the efforts of combating Co2 it will be cheaper.

Friday, October 11, 2013


MENCARI PENULIS DARI PULAU KE PULAU


Penulis bukan kemampuan seperti jabatan yang pernah kita kenal seperti julukan "juru tulis". Bukan keahlian itu yang dicari. Melainkan penggugah dan penggugat pola pikir yang selama ini menjadi rujukan. Selain pilihan tema tulisan juga penyajian yang kian menantang agar semiotiknya lebih beragam dan lebih mewakili realitas bahkan melebihi realitas.


Pendek kata, saat ini sedang mempersiapkan majalah cetak yang bertemakan "manusia pulau" dan lingkungannya sedang mencari tulisan dari penulis-penulis diseluruh pelosok.

Baik berupa reportase, fiksi ataupun jurnalistik. Seluruh tulisan bermuat sekitar 750 kata. Bisa dialamatkan ke team redaksi daripulaukepulau@gmail.com.

Kami merindukan cerita dari sebrang.

Sampai jumpa

Monday, October 7, 2013

DIGITAL ERA & ELITIS, iPHONE DI KEHIDUPAN KITA

iPhone 5 S dan iPhone 5 C telah hadir di pasar (America). Apakah yang perlu kita simak pada fenomenology kegandrungan era digital ini merambah dalam kehidupan kita?Fisiknya tidak jauh dari pada iPhone 5 sebelumnya. Versi murah iPhone 5 C dikiritisi dengan harga US $ 400 an tidak cukup untuk di kategorikan "murah". Bodynya dari plastik keluar dengan aneka ragam. Sedang versi mewah iPhone 5 S dengan punggung bodynya kilau warna emas. Sebenarnya yang lebih hadir dri segi visual adalah kehadiran iOS 7, terutama pada mayoritas typology (Font) dengan menggunakan type Helvetica light. Berisikan prosesor dual-core, 64-bit A7 dua kali lebih cepat dari pada otak sebelumnya. Camera menghasilkan foto yang lebih 3 dimensi hasilnya. Design pada sisi fisik dan aplikasi memiliki kesatuan konsistensi yang sangat cantik. Selain sisi technology yang menjadi "leader" di dunia, Apple telah bisa menjual 9 juta iPhone (5 S dan 5 C) selama 3 hari. Sebelum penjualan iPhone 5S & 5C saham Apple disekitar US$ 460 untuk per saham, hari ini telah mencapai US $ 490.64 (http://appleinsider.com/). Observasi yang menarik adalah mesin yang bisa membuat Apple dengan strategy technology, masuk ke dalam dunia sehari hari kita. Hal ini tidak mungkin luput dari fondasi yang telah diletakan oleh Steve Job, untuk berada pada perangkat High Technolgoy yang merubah cara kita berkomunikasi dan cara kita hidup pada dunia sehari hari. Tantangannya bukan lagi pada design saja, tetapi kegunaan yang bisa memudahkan kehidupan kita. Seperti diagnose kesehatan jarak jauh dengan dokter kita. Kalau mengontrol pintu dan jendela-jendela kita dari jauh palikasi tersebut sudah lama ada di pasar. Seperti telah dibuktikan oleh Steve Job, tata niaga music berubah dengan adanya iTunes. Kemudian berakhirnya era PC menjadi iPad (tablet). Dunia usaha yang bisa memenfaatkan dengan adanya iPad adalah dunia media. Saat ini masih ber negosiasi untuk memperbanyak TV chanel agar bisa menjual abonement dengan menonton TV program yang kita suka, sekalipun sudah 1 bulan lalu ditayangkan.

Berapa besar perubahan kehidupan yang "memajukan" peradaban benar-benar berkat smartphone seperti iPhone? Seudah menjadi sebuah ritual marketing beberapa hari, minggu fenomena kehadiran produk Apple memenuhi "head lines" di media digital ataupun cetak di dunia. Secara angka iPhone menguasai 40% dari pasar "smartphone". Selain itu dikuasai pasar Android.


Ada beberapa strategy iPhone yang ditunggu oleh para investor di masa mendatang: pertama adalah system pembayaran yang bisa menggantikan kartu kredit, kedua adalah berintegrasi dengan TV online. Saat ini porsi entertainment melalui perangkat Apple sudah dipegang adalah ITunes dengan penjualan music. Satu langkah lagi mereka akan menwarkan abonemen program TV.


Sementara kita menunggu kecanggihan smartphone, kita sudah sangat ketergantungan dengan perangkat "smartphone" dan merubah kehidupan, paling tidak sudah merubah struktur pengambilan keputusan kita sehari hari.




Monday, April 1, 2013

MEMBANGUN RUMAH DENGAN PRINSIP HIJAU TIDAKLAH RUMIT.....TETAPI MEMBANGUN MENTALITAS ECOSOPHIE.....Bag I

Sebuah bangunan yang mengikuti prinsip ramah lingkungan memang salah satu langkah awal untuk setiap penghuni planet bisa memperbaiki keadaan CO2. Tidaklah terlalu rumit untuk dicapai. Tantangan yang berat adalah untuk sebuah kawasan bisa memberikan kehidupan yang nyaman untuk masa depan yang lestari. Baik dikawasan rural ataupun urban. 

Kita belum memperoleh gambaran yang jelas bagaimana pedesaan kita mulai kosong dan mengisi kawasan urban baru. Mesin produktivitas pertanian mulai ditinggalkan. Konsep kapitalis tahun 60 an dimana uang mengalir disatu tempat menarik perhatian, sebuah kawasan pedesaan menjadi "dessertic" keksosongan. Tentunya hal tersebut membuat dampak ekonomi jangka pendek yang mengiurkan adanya pertumbuhan, tetapi akan mahal sekali melihat dampak jangka panjangnya. Bukan saja membuat emisi gaz CO2 bertambah, bahan bakan bersubsidi membebani APBN tiba-tiba infrastruktur tidak memadahi ...dan seterusnya.

Pola perekonomian kota yang dijanjikan oleh pemodal-pemodal lebih cepat mencetak kemiskinan dari pada kemakmuran. Apalagi ditambah dengan korupsi yang menjadi pendemik. Kemiskinan yang dianalisa oleh para spesialist bukan saja akibat kapital tetapi bahkan system yang diciptakan agar para buruh tetap terjebak untuk tetap tunduk dalam tekanan, karena bila tidak menerima pekerjaan yang penuh tekanan maka kemiskinanlah yang menimpa.

Pembentukan kehidupan kolektif yang memberdayakan atau membebaskan diri dari sistem produksi kapital adalah salah satu pilihan juga agar tidak tertekan dan bahaya jatuh untuk miskin.

Kolektifitas dengan memiliki tujuan menangani produksi pangan kebutuhan sehari hari bisa menjadi langkah pertama yang memungkinkan bebas dari sistem produktifitas yang diciptakan oleh system pemodal.

Gagasan yang awalnya berupa imajinair bisa diartikan sebagai tapa "pembebasan" adalah, asalkan langkah tersebut mewujudkan realitas; menyelematkan air hujan untuk dimanfaatkan, membentuk koletifitas pengumpulan bibit lokal sebagai bank benih, dll. Perubahan sikap dengan adanya "kebudayaan" keberpihakaan terhadap bumi sangat luas tetapi membutuhkan hasil yang bisa jadi rujukan oleh kelompok atau koperasi. Membangun inisitif yang bertumpu pada produksi pangan adalah pengungkapan kebudayaan terhadap bumi yang berskala nasional akan bisa menggalang kekuatan perekonomian baru.
 

©  THE ISLAND MAN